Sabtu, 26 Desember 2015 3 komentar

BENTANGALAM GLASIAL (Verstappen)

IX.1. Pengertian 
Bentangalam glasial adalah bentangalam yang terbentuk oleh aktivitas es atau gletser. Menurut Flint (1957) gletser adalah massa es dan tubuh es yang terbentuk karena rekristalisasi dari salju dan lelehan air yang secara keseluruhan atau sebagian teletak dalam suatu lahan dan memberikan kenampakan tersendiri, yaitu suatu bentukan gerakan. Beberapa hal yang penting dalam gletser diantaranya adalah: 
  1. Keadaan daerah 
  2. Proses 
  3. Endapan yang terbentuk di tepi perbatasan gletser (moraine)
Syarat terbentuknya bentangalam glasial :
  1. Adanya hasil endapan salju. 
  2. Terdapat pada ketinggian diatas < 5000 mdpl.
Ciri-ciri bentangalam glasial :
  1. Adanya alur-alur yang arahnya relatif sejajar pada permukaan batuan sebagai akibat torehan gletser.
  2. Adanya es atau salju atau gletser sebagai agen yang membentuk bentangalamnya.
IX.2. Faktor-faktor Pembentuk Bentangalam Glasial 
  1. Eksarasi, adalah erosi yang disebabkan oleh gletser atau es. Aliran gletser atau es tersebut dalam perjalanan mengalirnya akan mengikis material yang dilewatinya.
  2. Sedimentasi, adalah proses pengendapan dari material yang dikikis dan ditransport oleh es atau gletser.
Faktor-faktor pendukung gletser :
  1. Tingginya tingkat presipitasi 
  2. Suhu lingkungan yang rendah
  3. Pada musim dengin es terakumulasi dalam jumlah besar
  4. Tingkat peleburan yang rendah
IX.3. Macam-Macam Bentuklahan Asal Glasial
   Ada dua tipe bentangalam glasial, diantaranya yaitu: 
  1. Alpine glaciation, yaitu terbentuk pada daerah pegunungan
  2. Continental glaciations, yaitu bila suatu wilayah yang luas tertutup gletser.
Tipe-tipe gletser :
  • Valley glacier : Merupakan gletser pada suatu lembah dan dapat mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah. Pada valley glacier juga terdapat anak-anak sungai. Glacier valley ada yang berbentuk “U”, yaitu karena proses glasial dan yang berbentuk “V” karena erosi sungai. 
  • Ice sheet : Merupakan massa es yang tidak mengalir pada valley glacier tetapi menutup dataran yang luas, biasanya > 50.000 kilometer persegi.
  • Ice cap : Merupakan ice sheet yang lebih kecil, terdapat pada daerah pegunungan seperti valley glacier, contohnya di Laut Arktik, Canada, Rusia dan Siberia.
  • Ice berg : merupakan ice shet yang bergerak kebawah karena pengaruh gravitasi dan akhirnya hilang atau terbuang dalam jumlah besar.

  1. 1. Bentang alam karena proses erosi;
    Bentang alam karena proses erosi yang berasosiasi dengan alpine glaciations yaitu yang terbentuk pada daerah pegunungan. Bentang alam akibat erosi yang terbentuk pada alpine glaciation antara lain : Hanging valley Truncated Spurs, yaitu bagian kawah tepi lembah yang terpotong triangular faced karena erosi glasial.; Cirques; Rock basin lake; Horn; Crevasses 
Gambar 18. Bentangalam glasial akibat proses erosi. 
(sumber: Asisten Praktikum Geomorfologi IST AKPRIND, 2013)

  1. 2. Bentang alam karena proses pengendapan 
  • Till, merupakan batuan yang hancur dari dinding lembah yang terendapkan mengisi valleys glacier.
  • Moraines, merupakan till yang terbawa jauh glacier dan tertinggal atau mengendap setelah gletser atau es menyusut.
  • Kame, merupakan bukit-bukit kecil hasil pengendapan dari cairan es.
  • Drumlin 
  • Erratic 

Tabel 11. Klasifikasi bentuklahan asal glasial (Verstappen, 1983)
(Sumber : Suroso Sastropawiro, Sugeng Raharjo dkk, 2009)







1 komentar

Daerah Batuan Metamorf (BGI)

Batuan metamorf merupakan batuan hasil malihan (metamorphose) dari batuan lain yang  umur geologinya relatif lebih tua. Dengan demikian batuan metamorf dapat berasal dari:
  • Batuan beku
  • Batuan sedimen, atau
  • Batuan metamorf
Skema proses malihan (metamorphose) adalah sebagai berikut:



Gambar 5.1. Skema terjadinya batuan metamorf

Pada batuan meta sedimen (batuan metamorf yang belum sempurna) sifat-sifat asal batuan seringkali masih dapat dilihat dengan mata telanjang. mIsal mineral phenocryst pada batuan beku masih tampak, atau fosil atau perlapisan pada batuan sedimen masih dapat dikenal.

5.1. MENGENAL BATUAN  ASAL

Batuan metamorf merupakan  hasil proses metamorfose. Batuan metamorf dapat berasal dari:
·         Batuan  beku, batuan sedimen ataupun batuan metamorf.
o   dengan demikian bahan galian   yang pada awal terdapat pada batuan  asal  dipastikan  akan terdapat pada batuan metamorf. Sebagai contoh:
§  Apabila pada batuan beku terdapat bahan galian logam dalam bentuk emas, maka pada batuan metamorf juga akan terdapat emas.  Perlu diingat mineral logam tidak akan mengalami proses metamorfosa
§  Bila dalam batuan sedimen  terdapat mineral kuarsa maka pada batuan metamorf akan terdapat mineral kuarsit yang merupakan    hasil metamorfose mineral kuarsa
§  Bila dalam batuan asalnya  banyak didapatkan mineral amphibole maka batuan hasil metamorfosanya akan didapatkan mineral asbes.
§  Bila dalam batuan asalnya banyak didapatkan mineral biotit atau muscovite maka pada batuan metamorf yang terbentuk dijumpai mineral phlogopite.
Dengan demikian mengetahui asal mula batuan metamorf adalah sangat penting karena dapat mengetahui jenis bahan galian yang terdapat pada batuan metamorf.
·         Bahan galian logam tidak akan mengalami metamorfose, namun tetap seperti keadaan semula (bila pada batuan beku  yang merupakan asal batuan  metamorf)  semula ada emas maka pada batuan metamorf-nya juga akan  terdapat emas.
·         Bahan galian non logam dapat mengalami metamorphose,  sebagai contoh antara lain:
o   Mineral kuarsa bila terkena proses metamorfose akan membentuk mineral kuarsit
o   Mineral biotite maupun mineral muscovite bila terkena proses metamorphose akan membentuk mineral phlogopite
o   Mineral  kalsit apabila mengalami proses metamorphose akan membentuk mineral onyk
o   Mineral lempung apabila mengalami proses metamorphose akan membentuk slate
o   Mineral  amphibole  apabila mengalami proses metamorphose akan membentuk mineral asbes





5.2. MACAM METAMORFOSE
Proses metamorphose merupakan peristiwa alam yang sangat kompleks dan berjalan dalam waktu jutaan tahun. Proses tersebut hingga saat ini belum dapat ditiru oleh manusia dengan lingkup yang luas. Skema terjadinya proses metamorphose dapat digambarkan sebagai berikut:




Gambar 5.5. Skema terjadinya  batuan metamorf (batuan yang letaknya berdekatan dengan magma (yang merupakan sumber panas akan terbentuk metamorfose kontak, sedang  batuan yang letaknya berada di daerah  terkena tektonik akan terbentuk metamorphose regional).

Batuan metamorf  dapat terbentuk  sebagai akibat:
·         (1). Metamorfose kontak (thermal),  dimana suhu merupakan faktor utama. Sebagai contoh; intrusi batuan beku pada batugamping akan menghasilkan batu pualam (marmer).
Pertanyaannya:
Bagaimana anda mengetahui bahwa ditempat itu terdapat intrusi [yang mengakibatkan kontak (thermal)  metamorfose ?].
Untuk mengetahui hal tersebut perhatikan petunjuk  sebagai berikut: 
·         Perhatikan  berbagai macam batuan pada peta geologi, apakah ditempat tersebut terdapat batuan beku yang merupakan batuan intrusi ?. Anda harus tahu perbedaan antara bentuk intrusi dan non-conformity
·         Peta geologi  yang dibuat  adalah peta geologi permukaan. Oleh sebab itu ada kemungkinan batuan beku yang dimaksud tidak tersingkap sampai permukaan  sehingga  tidak tergambarkan  dalam peta geologi yang anda baca.
·         Dalam hal yang demikian maka satu-satunya metode yang dapat dilakukan adalah dengan mengetahui variasi/tingkat metamorfosenya. Bila tingkat metamorfosenya berbeda-beda  antara satu tempat dengan lain tempat pada daerah penyebaran  batuan yang masih sama maka dapat dipastikan itu sebagai akibat metamorfose kontak (thermal)
o   Sebagai salah satu contoh intrusi batuan beku pada batugamping. Bila tingkatan metamorfosenya berbeda beda (ada batuan marmer dan ada batuan metasedimen dari batugamping) dipastikan itu merupakan  metamorfose lokal. Kenampakan ini didekati dengan pengamatan petrografi
o   Hal yang sama dapat anda ketahui pada  batuan slate (batu sabak), pada batuan metamorf  sebagai jenis  phylit, gneiss, sekis dan sebagainya.
·         (2). Metamorfose regional, dimana tekanan (akibat tektonik) memegang peranan penting
Tektonik yang menghasilkan proses metamorfose juga  mempunyai penyebaran yang luas. Oleh sebab itu batuan metamorf yang dihasilkan oleh memorfose regional mempunyai tingkatan metamorfose yang sama

5.3. BAHAN GALIAN PADA BATUAN METAMORF
Pada dasarnya bahan galian yang terdapat pada batuan metamorf paling tidak mengikuti pada batuan asalnya. Apabila batuan asalnya merupakan batuan beku yang mengandung  logam emas (Au) maka sangat dimungkinkan pada batuan metamorf-nya juga akan mengandung emas. Dengan demikian maka anda tidak perlu heran mengapa pada batuan metamorf dapat ditemukan logam-logam yang semula dianggap hanya terdapat pada batuan beku saja. Beberapa batuan/mineral dapat berubah menjadi mineral yang telah mengalami metamorfose. Komposisi mineralogi relatif tetap, namun sifat fisik dan juga mungkin sifat optiknya akan berubah. Beberapa contoh antara lain:
  • Mineral kuarsa akan berubah menjadi mineral kuarsite
  • Mineral kalsit yang semula merupakan komposisi batugamping, akan mengalami perubahan sifat fisik dan optiknya menjadi marmer., namun komposisi kimianya tetap.
Gambar 5.6. Singkapan batuan marmer yang belum ditambang (gbr.kiri), singkapan batuan marmer yang sudah ditambang (gbr.kanan)

Beberapa contoh batuan metamorf yang banyak dijumpai di Indonesia.

Jumat, 25 Desember 2015 0 komentar

Daerah Batuan Sedimen (BGI)

Batuan sedimen merupakan rombakan batuan lain yang umurnya lebih tua.
  • Batuan lain tersebut dapat berupa batuan beku, batuan sedimen ataupun batuan metamorf yang terbentuk lebih dulu.
  • Oleh sebab itu komposisi mineralogi  batuan sedimen akan  mencerminkan komposisi batuan asalnya.
  • Sifat umum yang dimiliki oleh batuan sedimen dan dapat dilihat (observable) dilapangan adalah berlapis.
    • Perlapisan tersebut kadang-kadang tampak jelas, namun ada juga yang tidak tampak nyata.
    • Perlapisan dapat terjadi sebagai akibat adanya perbedaan ukuran butir, maupun perbedaan warna.  Perbedaan warna terjadi sebagai akibat warna kumpulan mineral yang membentuk perlapisan
    • Perlapisan pada batuan sedimen  sangat bervariasi mulai dari beberapa puluh meter hingga berapa millimeter.
    • Oleh sebab itu apabila anda berhadapan dengan singkapan batuan sedimen dengan perlapisan yang cukup tebal, disarankan anda melihat dari jarak jauh.  Sebaliknya bila anda melihat perlapisan batuan sedimen yang tipis dekatilah singkapan tersebut.
    • Pada batuan beku juga ada kenampakan seperti berlapis yang dikenal dengan istilah  sheeting joint

4.1. TERMINOLOGY PERLAPISAN
Terminologi perlapisan yang terbentuk pada batuan sedimen adalah sebagai berikut:
Tabel 4.1. Terminologi perlapisan ( menurut McKee and Weir, 1953)
Tebal perlapisan
Terminologi
Lebih besar 120 cm
Perlapisan sangat tebal
120 cm-60 cm
Perlapisan tebal
60 cm-5 cm
Perlapisan tipis
5 cm-1 cm
Perlapisan sangat tipis
1 cm-0,2 cm
Perlapisan laminasi
Kurang dari 0,2 mm
Perlapisan laminasi tipis
  • Pada masing-masing perlapisan akan tersusun dari berbagai macam mineral dengan ukuran butir tertentu.
Tabel 4.2. Terminologi ukuran butir 
(menurut skala Wenworth)

Keterangan: Diameter adalah diameter terpanjang agregate; Conglomerate. bila bentuk agregat 
batuan bulat, dan breccia .bila bentuk agregat batuan runcing

4.2. . PROSES TERBENTUKNYA BATUAN SEDIMEN KLASTIK
Terbentuknya batuan sedimen tidak terlepas dari proses pelapukan dan proses-proses lanjutannya dan juga ditentukan oleh keberadaan batuan induk. Skema proses terbentuknya batuan sedimen adalah sebagai berikut:


Batuan induk dapat berupa batuan beku, batuan sedimen klastik dan batuan sedimen nonklastik maupun batuan metamorf. Batuan sedimen nonklastik terutama adalah batuan hasil proses evaporasi dan batuan yang merupakan pertumbuhan binatang koral


Gambar 4.3. Batuan konglomerate (gbr.kiri), batupasir (gbr.tengah), dan serpih (gbr.kanan)

4.3. PROSES TERBENTUKNYA BATUGAMPING BIOKLASTIK

Batugamping bioklastik adalah hasil rombakan dari batugamping nonklastik. Ciri utama batugamping bioklastik adalah berlapis, seperti layaknya pada batuan sedimen, dicirikan lagi dengan didapatkannya fragmen-fragmen fosil.  Secara skematik terjadinya batugamping bioklastik adalah sebagai berikut:


Dengan demikian struktur sedimen yang terjadi di batuan sedimen pada umumnya sangat mungkin terjadi juga di batugamping bioklastik. Untuk batugamping bioklastik  ada terminologi khusus. Terminologi tersebut adalah:
  • Disebut  calcirudite bila batugamping bioklastik tersebut mempunyai ukuran butir rudite (kasar - seperti breksi)
  • Disebut  calcarenite bila batugamping bioklastik tersebut mempunyai ukuran butir arenite (pasir)
  • Disebut calcilutite bila batugamping bioklastik tersebut mempunyai ukuran butir lutite (lempung)
Gambar berikut akan dapat memperjelas terminologi tersebut diatas.
 
Gambar 4.4. Contoh calcirudite (gbr.kiri), calcarenite (gbr.tengah), calcilutite (gbr.kanan)

Batugamping nonklastik merupakan perkembangan dari rumah binatang koral. Bersama dengan koral akan terdapat pula jenis kehidupan yang lain dengan komposisi “rumahnya” yang sama.  Rumah binatang koral itu akan membentuk suatu koloni. Perkembangan koloni koral sangat tergantung pada naik dan turunnya dasar cekungan sedimentasi. Pada saat dasar cekungan turun perkembangan koloni koral menuju kearah vertikal, sedang pada saat dasar cekungan sedimentasi naik, perkembangan koloni koral akan kearah lateral. Perkembangan koloni koral berada diatas dasar cekungan sedimentasi yang beralaskan batuan dengan tektur kasar (dapat batuan beku, batuan sedimen ataupun batuan metamorf). Bila perkembangan koloni koral berada diatas  batugamping berlapis, maka kenampakan bentukan tersebut secara keseluruhan dikenal dengan istilah biostrome. Namun bila kenampakan singkapan itu tanpa dasar batugamping berlapis dikenal dengan nama bioherm. Terminologi ini didasarkan pada kenampakan singkapan di lapangan.


Gambar 4.5. Biostrome (gbr.kiri), dan bioherm (gbr.kanan)

Perkembangan koloni koral yang meliputi daerah luas seperti yang terjadi di daerah Wonosari, Wonogiri dan Pacitan akan membentuk bentang alam karst. Ciri-ciri bentang alam karst yang tampak dipermukaan disebut sebagai eksokarst ditunjukkan adanya bentukan  deretan bukit batugamping seperti kerucut  (conical hills) dengan berbagai ketinggian, dan diantara bukit-bukit tersebut kerapkali dijumpai telaga. Sedang  tanda-tanda bentang alam karst bagian dalam yang dikenal sebagai endokrast antara lain: terdapatnya sungai bawah tanah, mata air, sumuran (luweng), goa dengan stalaktite dan stalakmite-nya. Berbeda dengan pada batuan sedimen klastik,  dimana air tersimpan dalam pori-pori batuan, tetapi pada batugamping dengan bentang alam karst pori-pori yang merupakan reservoir air berada pada diaklas (rekahan/retakan). Makin banyak rekahan terdapat makin tinggi jumlah air yang tersimpan pada batugamping nonklastik. Apabila bukit-bukit karst tersebut ditambang, hilang pula rekahan-rekahan yang merupakan reservoir air tanahnya. Akibat yang paling serius, hilang pula mata air yang pernah ada, telaga menjadi kering. Gambar berikut adalah cirri-ciri bentang alam karst.

Gambar 4.6. Sumur (uvala) (gbr.kiri), sungai bawah tanah (gbr.tengah), goa dengan stalaktite dan stalakmite (gbr.kanan)

Gambar 4.7. Sungai bawah tanah yang cukup besar (gbr.kiri), bukit-bukit karst (gbr.tengah), telaga yang merupakan tampungan air dipinggir telaga dijumpai mata air (gbr.kanan)

Dengan demikian  sungai bawah tanah mengalir tidak mengikuti hukum aliran  air bawah tanah seperti pada batuan sedimen klastik.  Aliran tersebut membentuk suatu system tersendiri yang dikenal dengan ecology system (dikenal dengan istilah ecosystem). Jaringan aliran sungai bawah tanah ini dapat dirunut dengan metode tracing, yaitu memasukan air yang sudah diberi warna atau serbuk yang mudah mengapung dan mudah mengalir (seperti sekam padi). Jaringan aliran air bawah tanah tersebut dapat dipantau pada  tempat-tempat mata air yang muncul. Daerah imbuhan air bawah tanah disebut dengan istilah recharge area. Dengan keadaan yang demikian bila conical hills itu dirusak atau ditambang secara besar-besaran, dipastikan diaklas yang merupakan reservoir air akan hilang dan hal ini mengakibatkan mata air akan turun debitnya, atau bahkan dapat mati.

4..4. . BAHAN GALIAN YANG TERDAPAT PADA BATUAN SEDIMEN KLASTIK
Bahan galian dijumpai pada batuan sedimen klastik adalah:
  • Sebagai endapan placer: antara lain pasir besi (termasuk titanium, zirconium), intan, emas,  pasir kuarsa, timah putih.
  • Sebagai endapan sedimentasi: antara lain dolostone, batugamping,  batugamping bioklastik, diatomite,  batupasir, batupasir kuarsa.  serpih, batulempung, konglomerate dan breksi, endapan pyroklastik. zeolite
  • Sebagai endapan sedimentasi dengan persyaratan khusus:  antara lain batubara,  mineral harzt, dengan persyaratan khusus minyak dan gas bumi, aspalt (ingat aspalt buton-butas (singkatan dari buton aspalt)
  • Sebagai endapan kimia dalam bentuk lensa-lensa pada batugamping yaitu  mangaan, pyrite, endapan guano pada  dasar gua  di daerah batugamping.
  • Sebagai endapan hasil proses reduksi : belerang (pada batubara), mineral pyrit pada batubara
  • Sebagai hasil proses evaporasi: gypsum, halit
  • Sebagai hasil rekristalisasi: kalsit pada batugamping nonklastik, kalsit pada rekahan-rekahan batugamping klastik maupun nonklastik, stalaktite dan stalakmite (pada gua batugamping),


Perhatikan gambar-gambar berikut dan berikan komentar anda.




0 komentar

Daerah Batuan Beku (BGI)

Apabila anda  melakukan pengamatan geologi di daerah batuan beku, jenis bahan galian apa saja yang kemungkinan besar  dapat dijumpai ?

3.1. GENESA BAHAN GALIAN DI DAERAH BATUAN BEKU

  • (1). Hingga saat ini diyakini  magma adalah sumber dari pembentukan mineral logam. Dengan demikian apabila anda berhadapan dengan batuan beku, ada kemungkinan anda akan mendapatkan mineral logam.


  • (2). Mineral logam digolongkan menjadi 2 bagian besar yaitu  mineral hypogene dan mineral supergene.
    • Mineral hypogene adalah mineral yang terbentuk bersama mineral-mineral lain, dan belum mengalami proses pelapukan
    • Mineral supergene adalah mineral yang merupakan hasil proses pelapukan
Daftar mineral hypogene dan mineral supergene lihat Buku Geologi Mineral Logam –Sukandarrumidi 2007  tabel 1.1. hal 3-5.


  • (3). Disamping terdapat mineral hypogene dan mineral supergene, terdapat jenis mineral gangue. Mineral gangue adalah  asosiasi mineral yang membentuk batuan dan bukan mineral bijih didalam suatu jebakan. 
Daftar mineral gangue (yang terdapat pada batuan beku), lihat  rabel 1.2.  hal. 5-6, pada buku Geologi Mineral logam-Sukandarrumidi 2007. Mineral gangue merupakan mineral non logam.


  • (4). Pada proses pembekuan magma  dikelompokkan proses magmatik awal dan proses magmatic akhir
    • Proses magmatik awal meliputi: disseminasi, pemisahan dan injeksi  
    • Proses magmatik akhir meliputi: pemisahan cairan magma sisa, injeksi cairan, pemisahan cairan magma dan injeksi cairan immisibel. Hasil proses pembekuan digolongkan menjadi 3 kelompok yaitu:
      • Kelompok logam murni (termasuk logam)
      • Kelompok sulfida (termasuk logam)
      • Kelompok batu permata (termasuk senyawa bukan logam)
Nama-nama unsur logam yang terbentuk oleh pembekuan magma lihal tabel 1.5, hal 12 dalam buku: Geologi Mineral Logam-Sukandarrumdi 2007


  • (5). Proses sublimasi merupakan proses pengendapan langsung dari uap maupun  gas. Bahan galian yang didapatkan adalah senyawa sulfida


  • (6). Proses metasomatisme kontak akan mengakibatkan terjadinya proses metamorfose, yang dikelompokkan menjadi dua bagian besar yaitu:
    • Metamorfose sentuh (dimana suhu berperan sangat penting) dapat menghasilkan batuan metamorf namun belum sempat membentuk mineral baru.
    • Metasomatisme sentuh (suhu dan tekanan berperan penting) juga terjadi penambahan tekanan pada sisa cairan magma yang mampu mengadakan rekasi kimia dan menghasilkan mineral baru
Bahan galian yang terbetuk pada metasomatisme sentuh tercantun pada tabel 1.6 hal. 13. dalam buku Geologi Mineral Logam-Sukandarrumidi 2007.


  • (7). Proses hydrothermal, cairan sisa magma akan  bereaksi dengan batuan dinding (wall rock). Berdasarkan atas tingkatannya proses hydrothermal dikelompokkan menjadi:
    • epithermal,
    • mesothermal dan
    • hypothermal.
Bahan galian yang terbentuk sebagai akibat proses hydrothermal dapat dilihat pada tabel 1.7. Hal 15-16 dalam buku Geologi Mineral logam-Sukandarrumidi 2007.


  • (8). Disamping bahan galian dalam  bentuk logam dan non logam, didaerah batuan beku juga dijumpai:
    • Batuan beku yang merupakan gabungan dari berbagai mineral dan logam-difungsikan sebagai bahan bangunan
    • Batuan metamorf,  difungsikan sebagai  bahan bangunan, jenisnya tergantung pada batuan asalnya
      • Untuk batulempung akan berubah menjadi slate
      • Untuk batugamping akan berubah menjadi marmer
      • Untuk batuan  yang banyak mengandung mineral kuarsa akan membentuk quartzite
      • Untuk batuan granit akan membentuk gneiss


  • (9). Disamping itu, akibat proses pelapukan batuan beku dapat menghasilkan
    • Pasir kuarsa dan pasir besi  yang merupakan endapan placer
    • Kaolin yang merupakan hasil pelapukan mineral feldspar
  • (10). Pelapukan batuan beku merupakan soil yang cukup subur karena banyak mengandung nutrisi yang diperlukan oleh tumbuhan.


3.2. PENGGOLONGAN BAHAN GALIAN INDUSTRI BERDASARKAN KOMPOSISI  KIMIA
Mineral yang terdapat di alam dapat diklasifikasikan berdasarkan unsur atau senyawa menjadi:
  • Mineral dalam bentuk unsur tunggal atau senyawa
  • Mineral dalam bentuk logam, semi logam dan non logam.
Secara sederhana klasifikasi tersebut pada dicermati pada tabel berikut:

Tabel 3.1. Penggolongan  mineral yang terdapat di alam
adalah sebagai berikut

Penggolongan
Nama mineral
1. Metal/logam (sebagai unsure)
Emas (Au), perak (Ag), merkuri (Hg), tembaga (Cu),  besi (Fe), platina (Pt)
2. Semi metal (sebagai unsure)
Arsen (As), tellurium (Te)
3. Non metal (sebagai unsure)
Belerang (S), diamond (C), graphite (C)
4. Sulfides
Sulfides type: Argentite (Ag2S), chacocite (Cu2S), bornite (C5FeS), galena (PbS), sphalerite (ZnS), chalcopyrite (CuFeS), greenockite (CdS), pyrrhortite (Fe1-xS), niccolite (NiS), millerite (NiS), covellite (CuS), cinnabar (HgS), realgar (AsS), orphiment (As2S3), stibnite (Sb2S3), bismuthinite (Bi2S3), pyrite (cubic)(FeS2), marcasite (orthorhombic)(FeS2), cobbalite (CoAsS), arsenopyrite (FeAsS), loellingite (FeAs2), molybdenite (MoSs), cavalerite (AuTe2), sylvanite (Au,Ag)Te2.

Arsenides type: Skutterudite [(Co,Ni,Fe)As3].

Sulfosalts type: Polybasite (Ag,Cu)16Sb2S11, stephanite (Ag5SbS4), pyrargyrite (Ag3SbS3), prousitite (Ag3AsS3), tetrahedrite (Cu,Fe)12Sb4S3, tennanite (Cu,Fe)12As4S13, enargite (Cu3AsS4), bournonite (PbCuSbS3), boulangerite (Pb5Sb4S11), miargyrite (AgSbS2), jamessonite (Pb4FeSb6S14)
5. Oxides
Cuprite (Cu2O), zincite (ZnO), massico (PbO), corundum (Al2O3), hematite (Fe2O3), ilmenite (FeTiO3), bixbyite (Mn,Fe)2O3, rutile (tetragonal) (TiO2), pyrolusite (MnO2), cassiterite (SnO2), anatase (tetragonal)(TiO2), brookite (orthorhombic)(TiO2), tungsite (WO3.H2O), uraninite (UO2), gummite {U oxides, plus H2O(?)], brucite [Mg(OH)2], manganite [MnO(OH)], psilomelane [(Ba,H2O)4Mn10O20], bauxite [Al(OH)3 plus Al dan H2O, goethite (HFeO2), limonite [FeO(OH).n H2O], spinel (MgAl2O6), magnetite (FeFe2O4), chromite (FeCr2O4), chrysoberyl (BeAl2O4), microlite [(Na,Ca)2Ta2O6O,OH,F0], columbite [(FeMn)(Cb,Ta)2O6], tantalite [(Fe,Mn)(Ta,Cb)2O6], samarskite [Y,Er,Ce,U,Ca,Fe,Pb,Th)(Cb,Ta,Ti,Sn)2O6]
6. Halides
Halite (NaCl), sylvite (KCl), cerargyrite (AgCl), bromyrite (AgBr), sal ammoniac (NH4Cl),calomel (HgCl), fluorite (CaF2), atacamite [Cu2Cl(OH)3], cryolite (Na3AlF6)
7. Carbonates
Calcite group: Calcite (hexagonal)(CaCO3), magnesite (MgCO3), siderite (FeCO3), siderite (FeCO3), rhodochrosite (MnCO3),, smithsonite (ZnCO3),
Aragonite type: Aragonite (orthorhombic)(CaCO3), witherite (BaCO3), strontianite (SrCO3), cerussite (PbCO3),
Other carbonates: Dolomite [CaMg(CO3)2, hydrozincite [Zn5(CO3)2(OH)6, malachite [Cu2CO3(OH)2], aurichalsite [(Zn,Cu)5(CO3)2 (OH)6], phosgenite [Pb2(CO3)Cl2], azurite [Cu3(CO3)2(OH)2], leadhillite [Pb4(SO4)(CO3)2(OH)2].
8. Nitrates
Soda niter (NaNO3), niter (KNO3).
9. Borates
Kernerite (Na2B4O7.4H2O), borax (Na2B4O7.10H2O), ulexite (NaCaB5O9.8H2O), colemanite (Ca2B6O11.5H2O), howlite [Ca2B5SiO9(OH)3].
10. Sulfates
Thenardite (Na2SO4), barite (BaSO4), celestite (SrSO4), anglesite (PbSO4), anhydrite (CaSO4), glauberite [Na2Ca(SO4)2], polyhatite [K2Ca2Mg(SO4)4.2H2O], gypsum (CaSO4.2H2O), chalcanthie (CuSO4).5H2O, epsomite (MgSO4.7H2O), brochantite [Cu4(SO4)(OH)6], antlerite [Cu3(SO4)(OH)4, linarite [PbCu(SO4)(OH)2, alunite [KAl3(SO4)2(OH)6], copiapite [(FeMg)Fe4(SO)6(OH)2.20(H2O)], coledonite [Cu2Pb5(SO4)3(CO3)(OH6)], crocoite (PbCrO4).
11. Phosphates, arsenat, vanadates, urinates.
Triphylite (LiFePO4), lithophylite (LiMnPO4), hetersite [(FeMn)PO4], purpurite [(MnFe)PO4], beryllonite (NaBePO4), monazite [(CeLaYTh)(PO4)], hureaulite [H2Mn5(PO4)4,4H2O], roselite [Ca2(CoMg)(AsO4)2.2H2O], phosphopyllite [Zn2(FeMn)(PO4)2.4H2O], vivianite [Fe3(PO4)2.8H2O], erythrite [(CoNi)3(AsO4).8H2O], annabergite [(NiCo)3(AsO4)2.8H2O], variscite [Al(PO4).2H2O], strengite [Fe(PO4).2H2O], scorodite [Fe(AsO4).2H2O], descloizite [(ZnCu)Pb(VO4)(OH)], mottramite [(CuZn)Pb(VO4)(OH)], herderite [CaBe(PO4)(OHF)], amblygonite [LiAl(PO4)(OH)], brazilianite [NaAl3(PO4)2(OH)4], olivenite [Cu2(AsO4)(OH)], libethenite [Cu2(OH)(PO4)], adamite [Zn2(AsO4)(OH)], augelite [Al2(PO4)(OH)3],  dufrenite [Fe5(PO4)3(OH)5.2H2O], phosphuranylite [Cu(UO2)(PO4)2(OH)4.7H2O], apatite [Ca5(Cl.F)(PO4)3], pyromorphite [Pb5(PO4AsO4)3Cl], mimetite [Pb5(AsO4PO4)3Cl], vanadinite [Pb5VO4)3Cl], lazulite [(MgFe)(Al2(PO4)2(OH)2], scorzalite [Fe.Mg)Al2(PO4)(OH)2, liroconite [Cu2Al(AsO4)(OH)4.4H2O], childrenite [(Fe.Mn)Al(PO4)(OH)2.H2O], eosphorite [(MnFe)Al(PO4)(OH)2.H2O], wardite [NaAl3(PO4)2(OH)4.2H2O], turquoise [CuAl6(PO4)4(OH)8.4H2O], wavellite [Al3(OH)3(PO4)2.5H2O], torbernite [Cu(UO2)(PO4)2.8-12(H2O)], autunite [Ca(UO2)2(PO4)2.10-12(H2O), carnotite [K2(UO2)2(VO4)2.3H2O].
12. Tungstates (Wolframates dan Molybdates
Wolframite [(FeMn)(WO4), ferberite (FeWO4), huebnerite (MnWO4), scheelite (CaWO4), powellite (CaMoO4), wulfenite (PbMoO4),
13. Silicates
Silica type: Quartz (hexagonal)(SiO2), tridymite (orthorhombhic)(SiO2), cristobalite (tetragonal)(SiO2), opal (amorphous)(SiO2..nH2O).

Feldspar series: Orthoclase [KAlSi3O8), microcline (KAl.Si3O8),
Plagioclase series: mulai dari albite [Na.AlSi3O8) – oligoclase-andesine-labradorite-bytownite-anorthite (Ca.Al2Si2O8)

Felspathoid series: Leucit (K.AlSi2O6), nepheline [(Na.K)(Al,Si2O4].

Sodalite series: Sodalite (Na4Al3Si3O12Cl), lazurite (Na4 – 5.Al3Si .3O12S).

Scapolite (wernerite) type: Marialite [Na4Al3(Al.Si)3Si6O24 (Cl.CO3.SO4)], meionite [Ca4Al3(Al,Si)3Si6O24 (Cl.CO3.SO4]

Zeolite family: Heulandite [(Ca.Na.K.)6 (Al.Si)Si29O80.25H2O], stilbite [(CaNa)3Al5(Al.Si)S14O40.25H2O], chabazite [(Ca.Na.K)7Al12(Al.Si)2Si26O10..40H2O], natrolite [Na2Al2Si3O10.2H2O], analicime (=analcite){Na.Al.Si2O6.H2O], cordierite [(Mg,Fe)2Mg2Al4Si5O18]

Disilicate type: Pyrophylite [Al2Si4O10(OH)], kaolin [Al2Si2O5(OH)], talc {Mg3Si4O10 (OH)2], serpentine [Mg3Si2O5(OH)4, apophyllite [K.Ca4Si8O20(F,OH).8H2O, margalite [CaAl4Si2O10(OH)2], prehnite [Ca2Al2Si3O10(OH)2],

Mica group: Muscovite [K.Al3Si3O10(OH)2], biotie [K(Mg.Fe)3AlSi3O10(OH)2, phlogopite [K(Mg,Fe)3(AlSi3)O10 (F,OH)2], lepidolite [K2Li3Al4Si7O21(OH,F)3].

Metasilicate (=amphibolite) type: Anthophyllite [(Mg,Fe]7Si8O22(OH)], tremolite [Ca2Mg5Si8O22(OH)2, actinolite [Ca2(Mg,Fe)5Si8O22(OH)2, hornblende [CaNa(Mg,Fe)4(Al,Fe,Ti)3Si8O22(O,OH)2.

Meta silicate (=pyroxenes)  type: Enstatite [(Mg,Fe)SiO3, hypesthene [(Mg,Fe)SiO3], diopside (CaMgSi2O6), hedenbergite (Ca,Fé,Mg)Si2O6), augite [(Ca,Na)(Mg,Fe,Al)(SiAl)2O6], acmite-aegirine [Na,Fe,Si2O6], jadeite [Na(Al,Fe)Si2O6], spodumene (Li,Al,Si2O6],

Metasilicate (=pyroxenoids) type: Rhodonite [(Mn,Fe,Mg)SiO3], wollastonite (CaSiO3), pectolite (Na,Ca2Si3O8(OH), babingstonite
[(Ca(Fe’’,Mn) Fe’’’Si5O14(OH)], neptunite [(NaK)2(Fe,Mn)TiSi4O12], chrysocolla [Cu2H2Si2O5(OH)5].

Metasilicate (ring structure) type: Benitoite (BaTiSi3O9), eudialyte [Na4(Ca,Ce,Fe)2 ZrSi6O17 (OH,Cl)2],
Turmaline group: Schorl (black) [NaFe3B3Al3(Al3Si6O27)(OH)4, dravite (garnet red-brown) [Na,Mg3B3Al3(Al3Si6O27)(OH)4, uvite {CaMg3B3,Al3(Al3Si6O27)(O,OH)4,  elbaite (red green blue) [Na(Al,Fe,Li,Mg)3,B3Al3(Al3Si6O27)(O,OH,F)4}, beryl (Be3Al2Si6O18)

Pyrosilicate type: Hemimorphite [Zn4Si2O7(OH)2.2(H2O)], bertrandite [Be4Si2O7(OH)2], danburite [CaB2Si2O8],

Orthosilicate type: Olivine`series meliputi; olivine [(Mg,Fe)2SiO4], phenakhitr  BeSiO4, willemites (Zn2SiO4), dioptase (H2CuSiO4).

Humite series: Norbergite [(Mg2SiO4)] Mg (OH,F)2 atau Mg3(SiO4)(F,OH)2, chondrodite 2Mg2SiO4.Mg(OH,F)2, atau Mg5(SiO4)2(F,OH)2, humite 3Mg2SiO4.Mg(OH,F)2 atau Mg7 (SiO4)3(F,OH)2, clnohumite 4Mg2SiO4.Mg(OH,F)2 atau Mg9(SiO4)4(F,OH)2

Garnet series: Pyrope [Mg3Al2Si3O12], almandine [Fe3Al2Si3O12], spessartine [Mn3Al2Si3O12], uvarovite [Ca3Cr2Si3O12], grossular [Ca3Al2Si3O12], andradite [Ca3Fe2Si3O12],Visuvianite (=idocrase) [Ca10Mg2Al4(SiO4)5(Si2O7)2(OH)4

Epidote series: Pyrope [Ca2Al3(SiO4)3(OH)], epidote [(Ca2(Al,Fe)3(SiO4)3(OH)], allanite (orthite) [(Ca,Ce,La,Na)2 (Al,Fe,Be,Mn,Mg)3(SiO4)5(OH), zircon (ZrSiO4), datolite [Ca2B2(SiO4)2(OH), euclase [BeAlSiO4(Oh), topaz (Al2SiO4)(F,OH)2, axinita [H(Ca,Mn,Fe)3Al2B(SiO4)4]

Subsilicate type: Andalusite (orthorhombic) (Al2SiO5), silimanite (orthorhombic (Al2SiO5), kyanite (triclinic)(Al2SiO5), staurolite [Fe,Al,Si2O10 (OH)2], titanite (Ca,Ti,SiO5), dumortierite [Al8,,B,Si3O19(OH)], uranophane (Ca,U2,Si2O11.7H2O)
Sumber: Pough (1976).

Tabel 3.2. Rumus kimia unsur dan singkatannya.

1.Aluminium
Al
28.Chromium
Cr
55.Hydrogen
H
2.Antimony
Sb
29.Cobalt
Co
56.Indium
In
3.Argon
A
30. Columbium
Cb
57. Iodine
I
4. Arsenic
As
31. Copper
Cu
58. Iridium
Ir
5. Barium
Ba
32. Dysprosium
Dy
59. Iron
Fe
6. Beryllium
Be
33. Erbium
Er
60. Krypton
Kr
7. Bismuth
Bi
34. Europium
Eu
61. Lantanum
La
8. Boron
B
35. Fluorine
F
62. Lead
Pb
9. Bromine
Br
36. Gadolinium
Gd
63. Lithium
Li
10. Cadmium
Cd
37. Gallium
Ga
64. Lutecium
Lu
11. Calcium
Ca
38. Germanium
Ge
65. Magnesium
Mg
12. Carbon
C
39. Gold
Au
66. Manganese
Mn
13. Cerium
Ce
40. Hafnium
Hf
67. Mercury
Hg
14. Cesium
Cs
41. Helium
He
68. Molybdenum
Mo
15. Chlorine
Cl
42. Holmium
Ho
69. Neodynium
Nd
16. Neon
Ne
43. Rubidium
Rb
70. Thorium
Th
17. Nickel
Ni
44. Ruthenium
Ru
71. Thulium
Tm
18. Nitrogen
N
45. Samarium
Sm
72. Tin
Sn
19. Osmium
Os
46. Scandium
Sc
73. Titanium
Ti
20. Oxygen
O
47. Selenium
Se
74. Tungsten
W
21. Palladium
Pd
48. Silicon
Si
75. Uranium
U
22. Potassium
K
49. Strontium
Sr
76. Ytterbium
Yb
23. Praseodymium
Pr
50. Sulfur
S
77. Yttrium
Yb
24.Radium
Ra
51. Tantalum
Ta
78. Zinc
Zn
25. Radon
Rn
52. Tellurium
Te
79. Zirconium
Zr
26. Rhenium
Re
53. Terbium
Tb


27. Rhodium
Rh
54. Thallium
Tl



Dari daftar tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa:
  • Mineral dijumpai sebagai unsur logam, atau unsur non logam.
  • Mineral dijumpai sebagai senyawa dengan kation logam
  • Mineral dijumpai sebagai senyawa dengan kation non logam
  • Mineral dijumpai sebagai senyawa kombinasi  dengan kation logam dan non logam
Makin kompleks rumus kimia suatu mineral dan makin banyak campuran antara kation logam dan kation non logam, maka akan semakin kompleks teknik pemurniannya.

3.3. PEMBENTUKAN MINERAL VERSUS BOWEN REACTION SERIES
Magma merupakan asal muasal bahan galian endapan logam. Terjadinya  proses endogen dan proses eksogen akhirnya   terbentuk juga  bahan galian endapan non logam. Secara garis besar terbentuknya mineral yang berakhir dengan pembentukan endapan mineral melalui proses:
  • Kristalisasi magma
  • Sublimasi
  • Metasomatisme kontak
  • Hydrothernal
(1). Kristalisasi magma
Magma merupakan larutan silikat yang berasal  dari perut bumi dengan kedalaman tidak kurang dari 40 kilometer.
  • Pada magma mengandung berbagai unsur kimia, baik berbentuk logam, semi logam, atau non logam ataupun unsur-unsur volatile (pembentuk gas).
  • Masing-masing unsur kimia tersebut untuk membentuk zat padat (membeku) mempunyai temperatur yang berbeda.
  • Magma bersifat mobil dan dapat bergerak kemana-mana melalui celah-celah pada kulit bumi membentuk suatu intrusi yang diikuti dengan pembentukan bahan galian  baik dalam bentuk logam atau semi logam dan non logam.
  • Mineral logam dikelompokkan menjadi mineral logam hypogene dan mineral logam supergene
    • Mineral logam hypogene adalah mineral yang terbentuk bersama mineral mineral lain dan belum mengalami proses pelapukan
    • Mineral logam supergene adalah mineral logam yang terbentuk sebagai hasil proses pelapukan.
  • Urutan pembentukan tersebut akan mengikuti Seri Reaksi Bowen (dikenal sebagai Bowen Reaction Series), yang diikuti oleh kristalisasi dan diferensiasi.




Gambar 3.1. Bowen reaction series


  • Berawal dari tahap kristalisasi dan diferensiasi sebelum mencapai akhir kristalisasi dan diferensiasi sebelum mencapai akhir pembekuan, unsur-unsur yang masih ketinggalan dalam cairan sisa magma, kemudian akan membentuk:
    • Oksida-oksida magmatik
    • Endapan-endapan sulfida
  • Cairan sisa magma tersebut yang sudah tidak kental lagi, masih mengandung air, gas dan logam-logam, yang dikenal sebagai larutan hydrothermal yang nantinya akan mengendapkan mineral-mineral hydrothermal
    • Endapan mineral yang terbentuk bersama-sama dengan batuan sekeliling batuan [yang diintrusi yaitu pada batuan dinding (wall rocks)] disebut sebagai endapan mineral singenetik
    • Endapan mineral yang terbentuk sesudahnya dikenal sebagai endapan mineral epigenetik
Dalam perjalanan magma melalui sepanjang rekahan-rekahan di kulit bumi akan terjadi proses secara bertahap sebagai berikut:
·         Magmatik awal, merupakan tahap awal dalam kristalisasi magma dan akan menghasilkan bahan galian dalam 3 tipe yaitu:
·         Disseminasi
·         Pemisahan atau segregasi
·         Injeksi
  • Magmatik akhir, merupakan tahap  berikutnya setelah selesai magmatik awal. Magma yang tertinggal merupakan cairan magma sisa. Proses ini akan menghasilkan cairan magma sisa dan pemisahan cairan magma.
    • Pemisahan cairan magma sisa
    • Injeksi cairan
    • Pemisahan cairan magma
    • Injeksi secara immisibel

(2). Sublimasi
Merupakan proses pengendapan langsung dari uap dan gas, baik antar jenis gas yang ada  pada sisa. Proses ini umumnya akan membentuk mineral belerang pada beberapa kawah  atau fumarola.
(3). Metasomatisme kontak
Intrusi magama yang telah menjadi padatan, memiliki sisa cairan magma yang berupa cairan dan gas yang bersuhu tinggi. Cairan dan gas ini  apabila masuk bersentuhan pada celah-celah batuan lainnya dapat mengadakan reaksi kimia dan menghasilkan  mineral baru, yang dikenal sebagai metasomatisme kontak (sentuh)
(4). Hydrothermal
Merupakan cairan sisa magma akhir, namun masih mengandung logam-logam tertentu. Cairan ini disebut sebagai cairan hydrothermal, yang akan membentuk mineral-mineral logam pada tempat yang baru, yang dianggap asal dari mineral epigenetic. Proses hydrothermal dikelompokkan menjadi:
  • Hypothermal, cairan yang berada di tempat yang dalam dengan suhu antara 300o-500oC
  • Mesothermal, cairan yang berada di tempat yang tidak begitu dalam dengan suhu antara 150o-300oC
  • Epithermal, cairan yang berada di tempat yang dangkal dengan suhu antara 50o-150oC.

Pada saat cairan sisa magma masuk ke dalam cekah-celah batuan, maka akan terjadi reaksi kimia dengan dinding celah (wall rocks) dan memungkinkan terjadinya alterasi. Alterasi pada wall rocks ini dikenal sebagai wall rocks alteration.
Mineral-mineral logam ataupun semi logam dan non logam yang terbentuk antara lain:
Tabel 3.3. Klasifikasi bahan galian magmatik
Tipe
Proses
1.   Magmatik awal

a. Disseminasi
Penghabluran kristal ditandai dengan diikuti terjadinya konsentrasi bahan galian
b. Pemisahan
Pemisahan kristal yang diikuti terjadinya konsentrasi bahan galian
c. Injeksi
Pemisahan Kristal yang kemudian diikuti dengan injeksi
2. Magmatik akhir

a. Pemisahan cairan
    magma sisa
Pemisahan kristal diikuti pengumpulan cairan magma sisa
b. Injeksi cairan
Pemisahan kristal diikuti pengumpulan sisa cairan magma disertai penekanan atau injeksi
c.Pemisahan cairan
   magma
Pemisahan cairan immisibel disertai pengumpulan

d. Injeksi cairan immisibel
Pemisahan cairan immisibel disertai injeksi

Tabel 3.4. Bahan galian yang terbentuk oleh pembekuan magma
Endapan mineral
Unsur yang dihasilkan
1. Logam murni

a. Platina dan khromit atau sulfide Ni-Cu-Co
Platina
b. Osium, iridium, palladium dan lainnya
Platina
2. Oksida-oksida

a. Magnetit, beberapa hematit
Besi
b. Magnetit, beberapa hematit
Besi dan Titanium
c.Ilmenit
Titanium
d. Khromit
Khromium
e. Wlframit
Wolfram (Tungsten)
d. Korundum
Korundum
3. Sulfida-sulfida

a.   Kalkopirit, penlandit, polidimit, sperrylit dengan
    pirhotit dan logam mulia
Nikel dan Tembaga
b. Pentlandit dan polidimit dengan pirhotit
Nikel
c. Bornit, dan kalkopirit jarang dengan pirit
Tembaga
d. Molibdenit (jarang)
Molibdinium
4. Batu permata

a. Intan
Intan*
b. Pirop, almandit
Garnet*
c. Peridotit
Periodot*
* bukan unsur yang dihasilkan tetapi mineral yang dimanfaatkan

Tabel 3.5. Bahan galian yang terbentuk oleh metasomatisme
Macam mineral
Macam endapan
1. Magnetit
Besi
2. Emas bersama arsenopirit, magnetit, sulfida besi
Emas
3. Magnetit, korundum, garnet dan lain silikat
Amril
4. Garnet dan silikat-silikat
Garnet
5. Grafit dan silikat sentuh
Grafit
6. Molibdenit, pirit, dan garnet
Molibden
7. Oksida mangaan dan besi, silikat-silikat
Mangaan
8. Sfalerit dengan magnetit, sulfida timbal dan besi
Seng
9. Kalkopirit dan bornit dengan pirit,pirhotit,
    tembaga sfalerit, molibdenit, dan oksida
Tembaga
10. Galenit, magnetit, dan sulfida besi, tembaga
Timbal
11. Kassiterit, wolframit, magnetit, scheelit,
      pirhortit
Timah
12. Scheelit, dan sulfida-sulfida atau wolframit
      dengan wolfram, molibdenit dengan sulfida-
      sulfida
Wolfram

Tabel 3.6. Hasil alterasi kaitannya dengan dinding celah

Letak
Kondisi
Batuan dinding
Beberapa hasil alterasi
Dangkal
Epithermal
Batugamping
Silisifikasi


Lava-lava
Mineral lempung, alunit


Batuan intrusi
Khlorit, epidot, kalsit, kuarsa, beberapa serisit, mineral lempung
Sedang
Mesothermal
Batugamping
Menjadi silikaan s/d jasperoitan, dolomite dan siderit


Serpih, lava-lava
Silisifikasi, mineral lempung


Batuan beku asam
Pada umumnya serisit, kuarsa dan beberapa mineral lempung


Batuan beku basa
Membentuk epidot, khlorit
Dalam
Hypothermal
Batuan granitik
Greizen, topas, mika,


Sekis-sekis
Turmalin


Lava-lava
Piroksen-piroksen, amphibol


Gambar 3.2. Gunung api aktif (gbr.kiri), tebing curam dipinggir jalan (gbr.kanan). 


Gambar 3.3. Puncak gunung api yang dorman (gbr.kiri), peta geologi
dengan puncak digambarkan dengan warna merah.


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
;